Rabu, 23 Juni 2010

CERPEN: Cerita tentang Hujan


Cerita tentang Hujan dan Aku

Tiik... (satu tetes). Tiiiik........ tiiik! (dua tetes). Tiiiiikkk.... tiiik..tiik.. (tiga tetes). Tik! tik! tik! Tik...! (semakin lama, sudah tak terhitung lagi berapa tetes yang telah berjatuhan ke tanah)

Akhirnya hujan juga, ujarku dalam hati. Langit kulihat sejak tadi memang gelap. Namun hujan tak juga turun, tapi akhirnya setelah lama ditunggu, datang juga.
Hari ini hujan sama seperti hari kemarin. Butir-butir air yang jatuh dari langit itu mempunyai makna tersendiri bagi dia, seorang Kirana.

“Sel..aku duluan ya…udah ada janji nieh” ujarku pamit dengan orang yang ada dihadapanku.
“Hah?!” Sahutnya kaget dan spontan. “Yakin?? Hujannya lebat banget lo Na?!” Sambungnya lagi dan kepalanya menengok ke jendela, melihat keadaan diluar.
Aku menganggguk mengiyakan. Selly memandangku yang berlalu dari hadapannya. Aku tahu, Selly pasti sedang bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa aku harus menunggu hujan dulu untuk pulang ke rumah, kenapa tidak dari tadi?
“Memangnya ada apa dengan hujan?” Tanyanya suatu hari kepadaku, aku hanya menjawabnya dengan tersenyum saat itu.
Begitu sampai di depan pintu keluar kantor, bergegas aku mengambil payung yang selalu kubawa di tasku dan langsung kubuka. Entah kenapa tiap hari aku berpikir pasti hari ini hujan turun. Tanganku kujulurkan keluar, air hujan jatuh diatas telapak tangan, aku menengadah melihat ke langit, mencoba menangkap dan merasakan kesejukan percikan-percikan air murni yang langsung menetes dari langit itu.
Bismillah… Aku mulai melangkahkan kakiku menembus hujan yang sudah semakin lebat, langkahku dua kali lebih cepat dari biasanya. Aku berharap bisa tiba di rumah tepat waktu. Ibuku pasti sudah menungguku. Hari ini aku sudah janji dengannya akan pulang tepat waktu, karena akan pergi bersama-sama ke makam Papa. Ya, Papa-ku meninggal setahun yang lalu, persis seperti hari ini. Hujan.
Tes tes tes…
Hujan, dari dulu sampai sekarang, bunyinya masih saja tetap sama. Sama dengan keberadaan hujan yang dari dulu sampai sekarang masih begitu istimewa. Hujan ini masih sama, seperti setahun yang lalu.
Sejak kecil, aku sudah menyukai hujan. Fenomenanya, detik-detiknya saat akan jatuh menyentuh tanah, butir-butirnya, tetes-tetesnya. Hujan adalah air yang jatuh dari langit (pikirku dikala ku masih kecil dulu). Hujan begitu amazing bagiku! Ketika hujan turun saat itu aku pasti bersorak riang! Lalu bergegas lari keluar rumah, tak kuhiraukan teriakan mama yang memanggil namaku, yang kulhat hanya senyuman Papa yang melihatku berlari dengan kaki ku menuju ke halaman depan. Aku membiarkan tubuh mungilku dengan lincah menari dalam hujan, kubiarkan saja basah dan dingin yang terasa saat tubuhku diguyur oleh hujan. Pada saat itu aku begitu suka dengan dinginnya hujan, rasanya seperti diberi kado oleh Papa dipesta ulangtahunku, membuatku gembira.
Hujan, kesanmu memang terasa mencekam, apalagi saat engkau mulai menampakkan gejala yang menandakan akan kepenatan di atas sana, tapi aku tetap suka kamu hujan! (apalagi sekarang)
Tanda-tanda kemunculan terlihat jelas. Kilatan-kilatan cahaya yang melintas di langit, seperti sabitan-sabitan pedang yang ingin membelah langit, kemudian membaginya menjadi bagian-bagian kecil yang tak rata tiap ujungnya. Genderang-genderang raksasa yang mulai beraksi, mengeluarkan suara yang nyaring, seolah ingin menghantam! seluruh yang tampak olehnya, menggelegar, ber-gemuruh..! ‘ bak ingin mengatakan kalau “akulah sang penguasa alam semesta...”. Awan bergerumbul, saling bergerak, mendekat satu sama lain...,pelan-pelan…,bergumpal-gumpal, membentuk bantalan-bantalan hitam, seakan di langit yang luas itu sudah tidak ada lagi celah kosong, semuanya seolah berebut dan berkumpul menjadi satu kesatuan, menutupi segala cerahnya langit. Rupanya langit juga tak mau kalah, ia juga ikut andil. Langit pelan-pelan menjadi gelap kelabu, lama-lama semakin hitam dan akhirnya menjadi kelam!
Desiran hawa dinginpun mulai menusuki kulit mengoyak suasana hangat yang sebelumnya terasa. Raja angin juga turut serta menunjukkan kekuatannya seolah tidak mau cuma sekedar menjadi penonton. Ia bertiup dan meniup, kadang pelan! kadang kencang! Membuat semua yang ada, hanya bisa diam dan pasrah dan kemudian butiran kecil mulai jatuh, dari atas kebawah, layaknya pembuktian adanya gravitasi bumi. Awalnya, cuma setetes kecil kemudian, menjadi dua tetes kecil lalu menjadi tetesan yang banyak jumlahnya, sampai jariku tak cukup untuk menghitungnya! Air seolah-olah tumpah dari langit, semua basah oleh-mu, tidak ada yang tak basah, tidak hanya tanah ku, pohon ku, rumah ku, tapi juga seluruh tubuhkupun, juga telah basah olehmu!
Din din din diiiinnn!!!
Sebuah mobil berwarna hitam di belakangku mengklakson berulang kali. Aku kaget setengah mati dan spontan menepi kepinggir jalan. Ya Allah!! Hampir saja badan mobil itu mengenaiku, rupanya kakiku keluar dari garis jalan pejalan kaki. Kenangan indah masa kecilku dengan hujan, telah membuatku lupa dengan yang ada disekitarku. Kejadian tadi membuatku jantungku masih berdegup kencang sampai beberapa detik… dan akupun akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan pintas yang jauh dari jalan besar supaya lamunanku tentang hujan bisa kulanjutkan. Aku berjalan dengan langkah yang sama, menyusuri gang panjang didepanku.
Aku suka saat hujan, terutama karena hujan dan aku punya cerita sendiri. Aku begitu suka hujan, persis seperti aku menyayangimu. Bahagia yang kurasakan ketika aku berada didekatmu, sama seperti saat memikirkan hujan yang kunanti-nantikan turun. Saat itu, aku terus berharap selalu bisa menikmati titik-titik hujan bersamamu. Memoriku kuputar kembali ke beberapa waktu lalu. Hanya hujan saat itu yang menemaniku ketika aku terluka. Hujan turun di hari kita berpisah.
Setahun yang lalu, perpisahan itu membuatku tak kuasa menahan buliran bening dari indra penglihatanku, yang akhirnya kubiarkan menetes. Berderai, bercucuran. Dan hujan pun turun…merengkuhku ke dalam pelukannya, hujan menerimaku dengan tangannya. Seolah tahu kalau aku sangat membutuhkan keberadaannya! Untuk menyembunyikan tetesan airmataku. Aku selalu menampakkan sosok yang kuat dan tegar didepan dunia terutama didepan ibuku...supaya tidak terlihat seperti seorang perempuan yang lemah, yang rapuh dan mungkin akan mati bila terluka perasaanya. Ditengah rintik hujan yang deras, kesedihanku larut bersama Hujan. Aku menangisi keadaan dan kepergiannya. Sejak saat itu aku selalu berharap setiap hari turun hujan, hujan yang lebat. Aku selalu menunggu hujan, ditempat biasa dimana aku berdiri dan memandanginya sendirian.
Dan hujanpun kini telah selesai
Langkahku terhenti di sebuah tikungan, satu kelokan lagi, aku akan sampai di rumah. Kupejamkan mata sembari menarik nafas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya lagi. Kemudian aku melanjutkan langkahku lagi menuju rumahku.
Di depan pagar aku menghentikan langkahku, sudah kuduga aku akan melihat perempuan setengah baya itu duduk lagi di teras rumah. Ia menengadah melihat ke langit. Matanya menerawang jauh mengamati butir butir hujan yang sudah tak jatuh dari langit. Kakinya dibiarkan terjulur ke tepi teras dan menjuntai di tanah, seolah ia ingin sisa air hujan merasuk ke dirinya lewat pori pori tubuhnya, membasahi jiwanya. Ia selalu saja begitu, menghitung air hujan ketika hujan turun, padahal tubuhnya meringkuk kedinginan. Selang beberapa menit perempuan mengalihkan pandangannya, melihat sisa basah hujan yang masih lekat menjilat dahan, dedaun, juga pagar kayu yang ada di depannya.
“Kirana..? Kau sudah pulang nak…” Ujar perempuan itu berseri seri senang, begitu melihatku
“Ya, Aku disini ma…”Jawabku, aku berjalan ke arahnya dan begitu dekat dengannya, aku langsung merengkuh tubuh mungilnya, membelai rambutnya dan mencium keningnya.
“Sudah berapa kali Kirana bilang ma… kalau mau melihat hujan, pake jaketnya dong, sekarang mama kedinginan kan?” Aku menatap perempuanku, sedíh sekali. Mama membalas tatapanku dengan matanya yang sayu.
“ Tiap kali hujan, mama selalu teringat pertemuan pertama kali, saat berkenalan dengan Papa mu karena hujan dan basah ini .. dan papa mu menawarinya mama payung” Dia tersenyum menceritakannya “Saat terakhir juga, kami berpisah juga dalam hujan” Ucapnya lirih. Oh tuhan Perempuan ini begitu merindukan belahan jiwanya.
Aku sangat mencintai perempuan ini dan akan selalu menjaganya di sini, di sampingnya dan selalu akan menemaninya menghitung air hujan satu persatu….. Keberadaan hujan membuat perjalanku dan perempuanku selalu seperti ini. Saat hujan turun, kami ingin detik detik henti saja biar waktu tidak berjalan. Saat kami menghitung air hujan bersama, saat air hujan membasahi tanah.
Walaupun hari ini hujan memang telah berhenti, tapi ia takkan mampu menghapus kenangan masa lalu. Selama masih ada hujan, kami berdua dapat merasakan kehadirannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar